Thursday, April 22, 2010

Kondisi Permukaan tanah dan laut di indonesia

http://www.kompas.com/lipsus112009/gjread/2009/12/17/06583683/Kenaikan.Paras.Muka.Laut.5-10.Milimeter.Per.Tahun 




Kenaikan Paras Muka Laut 5-10 Milimeter Per Tahun


Pemandangan sore hari di Pantai Bintan Lagoon Resort.
JAKARTA, KOMPAS.com - Dari hasil pemantauan di beberapa lokasi, laju kenaikan paras muka laut Indonesia mencapai 5-10 milimeter per tahun, jauh di atas perkiraan kenaikan paras muka laut global yang diperkirakan 1,5 milimeter per tahun.
Laju kenaikan rata-rata paras muka laut Indonesia itu dipengaruhi oleh enam faktor, tetapi tidak didominasi perubahan iklim. Demikian diungkapkan Kepala Subdirektorat Mitigasi Bencana dan Pencemaran Lingkungan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Subandono Diposaptono, Selasa (15/12).
Menurut dia, data kenaikan paras muka laut di Indonesia diambil beberapa instansi. Dari pemantauan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional diperoleh data di Jakarta, Semarang, Jepara, Batam, Kupang, Biak, dan Sorong yang angkanya 5-10 mm per tahun.
Hasil penelitian Institut Teknologi Bandung memperlihatkan laju kenaikan paras laut di Belawan 7,83 mm per tahun, Jakarta 4,38 mm, Semarang 9,27 mm, dan Surabaya 5,47 mm per tahun. Pemantauan Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia untuk Panjang, Lampung, menunjukkan laju kenaikan 4,15 mm per tahun.
Enam faktor
Menurut Subandono, kenaikan paras muka laut sebagai dampak perubahan iklim hanya dipengaruhi dua proses, yaitu pencairan es di kutub dan proses pemuaian air laut akibat pemanasan global. ”Seluruhnya ada enam faktor penyebab,” katanya.
Faktor-faktor lainnya, lanjutnya, adalah meliputi dampak perubahan kerak bumi akibat aktivitas tektonik—penurunan tanah akibat gempa atau aktivitas seismik dan pemampatan tanah akibat kondisi tanah yang labil.
Selain itu, ada penurunan tanah akibat aktivitas manusia, misal pengambilan air tanah, ekstraksi gas dan minyak, atau pembebanan dengan bangunan.
”Faktor keenam, yaitu adanya variasi akibat fluktuasi iklim seperti fenomena La Nina yang membawa aliran air hangat dari Samudra Pasifik ke Indonesia,” kata Subandono. Menurut dia, enam faktor penyebab kenaikan paras muka laut itu penting diketahui untuk menetapkan agenda adaptasi dan mitigasi.
Indonesia terus mendorong perhatian dunia terhadap dampak perubahan iklim di laut. Ini ditengarai dengan makin rusaknya terumbu karang dunia ataupun ekosistem kelautan lainnya. Delegasi Indonesia untuk Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark, melalui surat elektronik menyampaikan telah menggagas kegiatan paralel Hari Kelautan (The Ocean Day) pada 14 Desember 2009, dibuka Pangeran Monako HSH Prince Albert II.
Mantan Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP Indroyono Soesilo dalam kegiatan paralel itu menekankan pentingnya pengarusutamaan dimensi kelautan dalam proses negosiasi perubahan iklim global.
Menurut Indroyono, program mengatasi dampak perubahan iklim dalam kaitan pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) perlu diwujudkan secara nyata. Kegiatan paralel dihadiri sekitar 150 peserta dari 39 negara yang menaruh perhatian terhadap isu kelautan, pesisir, dan pulau-pulau kecil yang perlu segera ditangani. (NAW)

Wednesday, April 21, 2010

Tambahan pengetauan soal MARITIM


Indonesia Jangan Menyerah Sekalipun Sulit Implementasikan Inpres Pada Tahun 2011 Mendatang

Jakarta (Berita): Indonesia diharapkan jangan langsung menyerah sekalipun meskipun sulit mengimplemantasikan Instruksi Presiden (Inpres) No 5 tahun 2005 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional pada tahun 2011.
Oleh sebab itu pemerintah sebaiknya bekerja sama dengan pihak swasta untuk mengimplementasikan Inpres No tahun 2005. Sebab dalam Inpres itu, sejak awal tahun 2011, seluruh kapal pengangkut barang (cargo) maupun penangkap ikan harus menggantikan posisi kapal berbendera asing yang selama ini menguasai 65 persen angkutan cargo Indonesia.
Untuk diketahui, industri galangan kapal yang ada saat ini hanya sekitar 200-an dan yang operasional hanya 100-an.  Karenanya Indonesia harus menambah alokasi APBN untuk segera membangun industri komponen perkapalan dan mengepektifkan seluruh industri galangan kapal nasional menjalankan perintah Inpres No 5/2005 tersebut.
“Produk domestik kita selama ini diangkut kapal berbendera asing. Nah tahun 2011 sesuai Inpres, harus dialihkan ke kapal milik Indonesia. Tetapi sampai sekarang kita belum memiliki armada. Produk industri kita 65 persen diangkut kapal asing. Bayangkan kalau itu diangkut kapal kita sendiri, rakyat kita pasti semakin sejahtera,” ungkap Direktur Industri Maritim dan Jasa Keteknikan Departemen Perindustrian Ir Soerjono MM kepada wartawan di kantornya, Senin [08/06].
Menurut Soerjono, Indonesia yang dikenal sebagai negara maritim dan memiliki ribuan pulau-pulau yang tersebar di seantero nusantara memerlukan ribuan kapal pengangkut produk ekspor. Namun yang tidak kalah penting adalah memproduksi  kapal penangkap ikan (standaerdize fishing vessel) dan kapal patroli lainnya.
“Saya itu siap kalau disuruh jongkok. Asalkan dibangun industri komponen perkapalan di Indonesia. Anda bisa bayangkan, negara kita ini negara maritim. Lautnya tersebar di mana-mana. Tapi kapal patroli ikan kita (DKP) cuma 23 unit. Makanya ikan-ikan kita dijarah oknum asing (ilegal fishing). Harusnya kapal patroli kita itu minimal 80 unit. Ironisnya lagi, meski negara maritim, tapi rakyat kita kekurangan ikan,” tambahnya.
Dia mengakui, Indonesia saat ini membutuhkan sekitar 5.000 unit kapal penangkap ikan berteknologi canggih dan memiliki daya jelajah hingga ke laut dalam, seperti  seri Standaerdize Fishing Vessel berbobot 70 DWT.
Untuk memproduksi kapal itu sekaligus membangun industri komponen memerlukan biaya sangat besar. Itulah yang membuat pemerintah dan swasta tidak mampu membangunnya. Kendati demikian, pejabat eselon dua kelahiran Gresik (Jatim) tetap berharap Indonesia harus memiliki industri perkapalan mutahir guna mengamankan laut dari aksi penjarahan maupun aksi-aksi provokasi internasional seperti kasus Pulau Ambalat.
Atas kecintaannya terhadap keamanan laut Indonesia, pejabat satu ini memutar otaknya. Dia pun rela mondar-mandir menapaki pintu ke pintu yang lainnya untuk menggugah para bohir agar bersedia membangun industri komponen perkapalan berstandar internasional di Indonesia seperti milik Hyunday Korea Selatan, umpamanya.
“Saya ke sana ke mari dan sudah bertemu dengan para bohir seperti Direksi Pertamina, Direksi BP Migas. Bohir-bohir  itu sangat well come dan antusias. Kita tinggal menunggu waktu kapan dilakukan. Saya berharap Indonesia bisa mencontoh Korea selatan dan Jepang.
Mereka sebelum populer di industri otomotif seperti sekarang, dulunya juga bergerak di industri komponen perkapalan. Itulah batu Korea dan jepang menuju sukses seperti sekarang. Kenapa kita tidak menirunya mereka,” imbuhnya.
Kapal-kapal penangkap ikan yang mendesak untuk dibuat di Indonesia, adalah kapal seri Standaerdize Fishing Vessel berbobot 70 DWT, lengkap reprigerator, cool storege seharga Rp12 juta dolar AS. Kapal ini memiliki daya jelajah sampai ke laut dalam.
“Kapal ini sangat bagus dan mampu menangkap ikan di laut dalam untuk menangkap ikan Tuna umpamanya. Kalau kapal ikan yang dipakai DKP hanya mampu beroperasi di 12 mil laut saja. Jadi kurang bagus lah,” ujarnya.
Selain itu, Soerjono juga mengingatkan supaya pemerintah dan swasta jangan sampai terlambat mengantisipasi Inpres No 5 tahun 2005. Pasalnya kalau terlambat, maka Indonesia akan kehilangan peluang emas. Sebab Arrest Of Ships dari International Marine Organization (IMO) sedang di ratifikasi di DPR RI. Konon kabarnya tinggal tanda tangan.
”Mata londo-londo itu mbelalak (nelotot). Kalau ratifikasi Arrest of Ships sudah ditandatangani, pasti jadi rebutan orang asing. Bisa-bisa Indonesia kecolongan. Oleh sebab itu, sebaiknya pemerintah dan swasta mempersiapkan diri dari sekarang,” imbaunya.
Asal tahu saja, di bidang agribisnis dan agroindustri, sektor perikanan termasuk salah satu penyumbang devisa negara nonmigas cukup besar bersama sektor kehutanan dan perkebunan. Sesuai dengan sasaran yang diharapkan dalam Rencana Strategis (Renstra) Pembangunan Kelautan dan Perikanan tahun 2005 – 2009, kontribusi sektor perikanan terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2009 diharapkan mencapai 5,10%.
Kemudian dari sisi produksi perikanan sebanyak 9,7 juta ton, nilai ekspor perikanan US$5 miliar, konsumsi ikan penduduk 32,29 kg/kapita/tahun, dan
penyediaan kesempatan kerja kumulatif sebanyak 10,24 juta orang.
Selama ini pasar utama ekspor hasil perikanan Indonesia masih ditujukan ke Jepang, Uni Eropa dan AS dengan pangsa pasar masing-masing sebesar 26%, 14% dan 34%. Untuk negara-negara kawasan Asia Timur dengan pangsa pasar sekitar 20%, negara tujuan utama ekspor produk perikanan antara lain ke Korea Selatan, Thailand, Singapura, Hongkong dan Taiwan. (olo)

Tuesday, April 20, 2010

Galangan Kapal: modal besar slow yielding, itu sebabnya


Masih Dipandang Sebelah Mata
Sunday, 18 April 2010
INDUSTRI perkapalan di Indonesia berpotensi memiliki daya saing di dunia. Setidaknya hal itulah yang diungkapkan Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo).

Di mana pertumbuhan permintaan bangunan kapal baru di Indonesia berkembang secara signifikan.Tetapi, permintaan yang berkembang tersebut tidak bisa diimbangi dengan kemampuan memproduksi kapal baru. Meski pertumbuhan galangan kapal nasional (galkapnas) didukung Inpres 5/2005 dan UU 17/ 2008,tetap saja perkembangannya belum sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Iperindo, ada sejumlah faktor yang menjadi penghambat perkembangan galkapnas. Di antaranya faktor kebijakan moneter dan fiskal, masih sulitnya mengakses dana perbankan, dan tingginya bunga yang dibebankan kepada industri perkapalan. Menurut dosen Fakultas Teknik Kelautan Universitas Dharma Persada Donny Achiruddin, harga kapal yang dihasilkan industri dalam negeri kurang kompetitif dibanding sejumlah negara, termasuk negara tetangga.

Hal ini disebabkan industri galangan kapal harus membayar pajak dua kali lipat. Sebagian besar komponen (sekitar 70–80% ) masih impor dari luar negeri. Pada proses impor perusahaan dibebankan pajak sekitar 10%. Pajak 10% juga diwajibkan ketika penjualan kapal. Hal ini berbeda dengan sejumlah negara lain yang tidak menerapkan dua kali pajak. ”Pembebanan dua kali pajak pada industri perkapalan tentunya akan membuat harga kapal di dalam energi lebih besar dibanding negara lain,”kata Donny. Masalah lain yang perlu mendapat perhatian adalah keterlibatan pembiayaan perbankan.Menurut Donny,selama ini perbankan enggan menyalurkan kredit kepada industri perkapalan. Mereka beranggapan, industri perkapalan penuh risiko karena kontrol terhadap industri ini sulit.

”Mereka sepertinya beranggapan kapal mudah saja hilang di laut,” tukas Donny. Selain itu, jika mereka mengajukan kredit, yang menjadi jaminan untuk pihak bank harus berupa barang yang ada di darat, seperti tanah. Sedangkan kekayaan di laut seperti kapal tidak bisa dijadikan jaminan.Artinya, dana dari perbankan pun tidak mudah turun untuk industri perkapalan. Akibatnya, sering kali perusahaan yang akan membuat kapal harus membebankan dana awal pada pihak pemesan, misalnya hingga 50% dari dana pembuatan kapal. ”Hal ini cukup memberatkan. Padahal, perkapalan adalah industri padat karya,” kata alumnus Institut Teknologi Sepuluh November ini. Kendala itu ditambah dengan besarnya bunga yang harus dibebankan kepada industri perkapalan. Dalam hal ini, berlaku mekanisme pasar. Besarnya permintaan modal kredit perbankan dari industri perkapalan yang tidak diimbangi dengan penyediaan dana menyebabkan bunga yang dipatok perbankan pun besar.Akibatnya, berimbas pada daya saing industri perkapalan Indonesia.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawandy juga mengakui, pendanaan untuk investasi dan modal kerja belum mendapatkan dukungan perbankan. Iklim usaha juga tidak kondusif. Dia mencontohkan, untuk industri pelayaran telah dibebaskan beban PP 10% tetapi bahan baku dan komponen kapal untuk industri perkapalan tetap dikenakan. ”Sehingga, menjadi biaya bagi industri perkapalan. Dan ini, akhirnya membuat tarif dok dan perkapalan menjadi tidak kompetitif,” kata Edy. Selain dua faktor di atas, fasilitas yang dimiliki industri sebagian besar sudah tua (out of date). Masalah lain adalah selama ini lahan yang digunakan industri galpanas sebagian besar berada di daerah kerja pelabuhan dan hak pengelolaan lahan (HPL)-nya dikuasai PT Pelindo.

Iperindo berharap, dengan telah terbitnya UU 17/2008 tentang pelayaran dan diikuti adanya PP 61/2009 tentang kepelabuhan diharapkan penguasaan lahan daratan dan perairan yang selama ini HPLnya dikuasai PT Pelindo, konsesinya akan beralih kepada pemerintah dalam otoritas pelabuhan. Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi mengatakan, usia peralatan dalam industri perkapalan sudah tua menimbulkan sejumlah permasalahan. Misalnya, kapasitas penggunaan alat tersebut menjadi sangat terbatas. Dia mencontohkan crane, alat yang dipergunakan untuk memindahkan bahan berat tersebut, dalam industri kapal seperti baja,banyak yang sudah usang.Akibatnya, daya angkut untuk mengangkat sesuatu pada industri perkapalan menjadi terbatas dan membutuhkan waktu lama.

Contoh lain adalah alat untuk tempat perbaikan kapal juga banyak yang sudah uzur.Hal ini akan berdampak pada daya saing industri perkapalan dalam negeri.Apalagi industri perkapalan dalam negeri kebanyakan didominasi pada perbaikan kapal daripada pembuatan kapal baru. Sekalipun ada pembuatan kapal baru,umumnya kapal-kapal kecil misalnya kapal berlambung fiber. Kendala lain adalah masih sangat tergantungnya industri perkapalan pada HPL yang ”numpang” pada PT Pelindo. Menurut Siswanto, dengan status ”numpang” ini membuat industri perkapalan dengan mudah dianaktirikan. Misalnya, jika ada antrean kapal antara dalam proses perbaikan dan bongkar muat, tentu dengan mudah Pelindo mendahulukan yang bongkar muat,yang tentunya lebih menghasilkan pemasukan.

Akibatnya,kapal yang akan mengalami perbaikan tidak mudah masuk pada galangan kapal yang memang masih berada di areal pelabuhan tersebut. Padahal,jika ada kelebihan keleluasaan lahan di pelabuhan bukan tidak mungkin industri kapal lebih berkembang. Industri perkapalan bisa lebih terkumpul dalam satu lokasi dan memudahkan proses pembuatan kapal. Misalnya, pabrik atau pemasok permesinan, galangan kapal, pabrik rantai kapal,dan lainnya bisa berkumpul di satu tempat yang menjadi kluster maritim. Saat ini industri perkapalan di Indonesia masih terpisah-pisah dan lokasinya berjauhan. Antara galangan, permesinan, dan bahan tidak di satu tempat yang berdekatan sehingga akan membuat cost yang lebih besar.

Berbeda misalnya dengan Singapura di mana tempatnya tidak berjauhan.Misalnya,perusahaan galangan kapal milik Singapura ada di Batam,kemudian mesinnya ada di Singapura, begitu juga sejumlah kebutuhan industri kapal lainnya yang jaraknya berdekatan. Hal ini membuat daya saing bisa lebih ditingkatkan. Karena itu, Iperindo mengharapkan agar daya saing industri galangan kapal nasional bisa lebih meningkat perlu adanya sejumlah dukungan dari pemerintah.Seperti dukungan permodalan di dalam proyek pembangunan kapal, juga adanya suku bunga khusus bagi industri perkapalan dan memberikan insentif pajak.Perbankan juga diharapkan tidak memberlakukan pengenaan collateral 135–150% dari jumlah pinjaman.

Iperindo juga mengharapkan perlu memperluas PP 38/2003 agar industri galangan kapal juga mendapatkan PPN sama seperti pada perusahaan pelayaran. Harapan lain adalah perlu pelaksanaan equal treatment antara impor kapal (seutuhnya) dengan impor komponen kapal. (abdul malik/islahuddin) 

Saturday, April 3, 2010

Kapal ini di design oleh para ahli SWISS, yang tidak punya laut. Dibuat di Jerman



SOLAR CATAMARAN PERTAMA DI DUNIA




Turanor,Kapal Bertenaga Matahari Pertama di Dunia
Sunday, 04 April 2010
KIEL (SI) – Industri perkapalan Jerman baru saja memperkenalkan produk mutakhir,Turanor.Kapal ini disebut-sebut sebagai kapal bertenaga matahari pertama dan terbesar di dunia.


Siapa pun pasti menyebut kapal ini istimewa karena berbeda dari kapal-kapal yang pernah diciptakan manusia.Kapal ini berukuran besar dan tipis untuk ukuran sebuah kendaraan air. Turanor memiliki luas 5.400 kaki persegi. Nama Turanor diambil dari istilah yang diciptakan novelis JRR Tolkein. Dalam novelnya, Lord of the Rings,Tolkein kerap menyebut Turanor.Dia mengartikan Turanor sebagai “kekuatan matahari”. Rabu (31/3) lalu,Turanor diterjunkan ke atas permukaan air untuk pertama kali di pantai utara Kiel, Jerman. Nakhoda yang mendapat kehormatan menguji coba adalah Raphael Domjan.

“Ini adalah saat yang membahagiakan untuk saya,” paparnya. Sebagai nakhoda,Domjan adalah orang penting yang berada di balik kesuksesan Turanor.Dia pun sudah tidak sabar lagi menantikan momen peluncuran Turanor.“Saya tidak sabar menakhodai Turanor,” katanya. Kapal megah dan mutakhir ini adalah bukti kualitas kerja arsitek Swiss selama enam tahun terakhir. Kapal mutakhir ini belum diluncurkan secara resmi karena momen yang terjadi Rabu lalu adalah uji coba awal terhadap kemampuan dan ketangguhan Turanor. Pemilik kapal, Immo Stroher, tidak bisa menutup rasa bangganya terhadap Turanor. “Kita berhasil.Turanor benar-benar berlayar,” katanya seraya menghapus air mata. Tentu bukan air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia.

Pada momen bersejarah itu Stroher tidak datang sendirian. Dia mengajak keluarga besarnya untuk menyaksikan kehebatan Turanor. Cucu perempuan Stroher tampak antusias menyaksikan uji coba pertama Turanor. Dia membuka botol sampanye, kemudian mengajak semua tamu untuk bersulang. “Semoga Anda selalu memperoleh air di bawah haluan dan matahari yang cukup di atas dek kapal Anda,” katanya. Turanor didesain sanggup melaju hingga kecepatan 7,5 knot, atau setara dengan kecepatan ratarata kapal tanker minyak. Konstruksi Turanor dibuat dengan gaya katamaran. Kapal ini membuktikan sinar matahari merupakan sumber tenaga yang aman dan berkualitas baik. Rencananya, kapal raksasa ini resmi diluncurkan April 2011.

Jika tidak ada aral melintang, Turanor akan mengelilingi dunia. Awalnya Turanor akan melintasi Samudra Atlantik, singgah sebentar di New York dan San Fransisco, kemudian melanjutkan perjalanan ke Australia dan Arab Saudi. Turanor akan berlabuh selama beberapa waktu di pelabuhan Arab Saudi, sebelum akhirnya berlayar pulang ke Jerman. Domjan berharap, perjalanan Turanor sesuai dengan estimasi waktu yang sudah disusun bersama. “Pelayaran pertama akan berlangsung selama 140 hari,” kata sang nakhoda Turanor.Menurut Domjan, Turanor adalah simbol daya guna energi matahari di masa mendatang.“ Semoga semua setuju dengan pemikiran saya,”paparnya. Rancangan Turanor dirilis pertama kali pada 2004.

Setelah rancangannya disetujui, para arsitek PlanetSolar SA lekas bekerja.Mereka membentuk tim khusus yang terdiri dari arsitek dan teknisi unggul. Setahun lalu potongan badan Turanor dibawa ke galangan kapal Knierim Yachtbau. Turanor sudah pasti menjadi kebanggaan Jerman. Pemerintah mengaku senang dengan kinerja PlanetSolar SA dan hasil akhir Turanor.“ Belum pernah ada kapal seperti ini,” tutur perwakilan Asosiasi Kapal Jerman, Claus Ehlert- Meyer, kepada media massa.

Ehlert-Meyer pantas bangga, sebab Turanor diciptakan dengan dukungan teknologi mutakhir. “Kami mendayagunakan teknologi yang baru. Turanor dibangun dengan gaya konstruksi terbaru,” paparnya. (Guardian/The China Post/ anastasia ika)



World's largest solar yacht unveiled
By Rachael Brown in London
Posted Fri Apr 2, 2010 8:04am AEDT
The world's largest solar yacht has been launched in northern Germany, ahead of its round the world attempt.
The Turanor takes its name from the Elvish language of JRR Tolkien's Lord of the Rings, and means "power of the sun".
Launched from Germany's northern port of Kiel, the yacht is set to sail around the world, powered by its 500 square meters of solar panels.
Its Swiss skipper Raphael Domjan says he hopes to deliver the message that a cleaner planet is possible.
He hopes to complete the trip in 160 days, via a route specially chosen to capitalise on the sun.
Without sunshine, the Turanor can still travel for three days on stored energy.


Solarkatamaran Turanor fertggestelltSolarkatamaran Turanor fertggestellt
Solarkatamaran Turanor fertggestellt
Heute, nach einer Bauzeit von gut 14 Monaten, ist ein ganz besonderes Schiff vom Stapel gelaufen. Die Rede ist von dem Solar-Katamaran “Turanor”, der im Jahr 2011 die Welt umrunden soll und das ohne auf konventionelle Energieträger zurückzugreifen.
Das Schiff wurde in Kiel von Howaldtswerke-Deutsche-Werf gefertigt und bedient sich der Solarenergie, um seine 4 Elektromotoren anzutreiben. Der Katamaran misst immerhin 31 Meter und ist Solarmodulen ausgestattet, die mit 500 Quadratmetern Gesamtfläche fast das ganze Schiff bedecken. Das Schiff wird von drei Männern bedient und soll bei einer durchschnittlichen Geschwindigkeit von 8 Knoten in 140 Seetagen die Welt umrunden.
Die 4 Motoren der Turanor leisten insgesamt rund 250 PS. Damit der Katamaran auch bei Nacht und schlechter Witterung fahren kann, sorgt eine 12 Tonnen schwere Batterie-Anlage dafür, dass bis zu 1,3 Megawattstunden Energie gespeichert werden können.
Die ganze Aktion ist in erster Linie als Promo für die erneuerbaren Gedacht und wird von den Medien genau beobachtet. Ein Erfolg der Aktion hätte sicherlich einen positiven Effekt auf das Image der erneuerbaren Energien.
Neu ist die Idee nicht. Bevor Motoren erfunden wurden, machte sich der Mensch bereits die Windenergie als Antriebskraft für Schiffe zu nutzen.
Author

Go to fullsize image

Wednesday, January 20, 2010

Ini salah satu sumber data: CIA FactBook

MONDAY, AUGUST 17, 2009

Data-data Maritim kita

Coastline: 54,716 km
Definition: This entry gives the total length of the boundary between the land area (including islands) and the sea.
Source: CIA World Factbook - Unless otherwise noted, information in this page is accurate as of December 18, 2008


Republic of Indonesia
Encyclopedia Article
Find | Print | E-mail | Blog It
Multimedia

76 items
Dynamic Map

Map of Republic of Indonesia
Article Outline
Introduction; Land and Resources of Indonesia; The People of Indonesia; Arts and Culture; Economy of Indonesia; Government of Indonesia; History of Indonesia


C Coastline
Due to the large number of islands, Indonesia has about 54,716 km (about 33,999 mi) of coastline, much more than most countries. The country claims all waters surrounding its islands to 12 nautical miles (22 km/14 mi) from the coastline. Indonesia’s exclusive economic zone, an area of the ocean in which the country controls fishing and other rights, extends 200 nautical miles (370 km/230 mi) from its shore.
Much of the northeastern coast of Sumatra and the coasts of Kalimantan and Papua are low and swampy with extensive mangrove forests. Along the coastal regions of northern Java, northeastern Sumatra, and southwestern Sulawesi, local villagers have developed ponds in the brackish tidal waters of mangrove forests. The ponds are used for the farming of fish and prawns. When world prawn prices rose in the early 1980s, villagers expanded the ponds into paddy fields lying further inland. They used pumps to mix seawater and irrigation water to help the fish and prawns thrive.
In stark contrast, the coastlines along the southern edges of Sumatra, Java, and some of the smaller islands of eastern Indonesia (such as Bali, Lombok, Sumbawa, and Sumba) are exposed to the swells that roll in from the Indian Ocean. These areas contain some of the world’s best surfing beaches, attracting large numbers of tourists. Bali is particularly renowned for its beaches. Tourists are also attracted to the coral reefs and atolls that extend down the southwestern coast of Sulawesi and surround many of the smaller islands of eastern Indonesia.


D Plants and Animals
With 40,000 species of flowering plants, including 3,000 trees and 5,000 orchids, Indonesia has a greater variety of flora than the tropical regions of Africa or the Americas. Indonesia is home to the very large and smelly corpse lily (see Rafflesia). Orchids are also abundant, and Indonesia is home to the largest of all orchids, the tiger orchid. The insect-trapping pitcher plant is found throughout western Indonesia.

Tuesday, January 19, 2010

Pergilah ke laut ....


Anwari Doel Arnowo

SEKEDAR TAMBAHAN BERHARGA:

1. Waktu RI diproklamasikan pada tahun 1945, luas laut kita adalah L Kilometer Persegi. Hari ini kita sudah sah memiliki ukuran laut yang luasnya sudah 60 (enam puluh) kali L Kilometer Persegi. Itu semua berkat Deklarasi Juanda pada tahun1957an dan diteruskan sampai Hukum Internasional mau mengakui bahwa Laut kita diakui oleh Dunia International dan PBB. Bukan saja Laut di dalam Zona Ekonomi kita itu milik kita, sampai dasar laut kita dan isi bumi yang berada di bawahnya adalah sah milik RI.

2. Belum cukup sampai di situ saja. Seluruh udara dan angkasa di atas kepulauan kita adalah juga merupakan hak kita, sehingga pihak asing manapun harus mendapat ijin dari RI kalau melintasinya.

3. Ironisnya: Kita tidak memiliki peralatan yang cukup untuk menjaga milik kita itu: Lautan dan Udaranya. Saya adalah seorang Naval Achitect - Arsitek Kapal, yang belajar di Jepang. Seumur hidup saya telah terpaksa tidak bisa berprestasi di bidang pembangunan kapal. Sebuah Industri Kapal bermodal luar biasa besar dan returnnya amat lama (slow yielding) dan biasanya dipelopori oleh pemerintahnya dan memerlukan proteksi. Perhitungan saya sekolah saya selesai pada tahun 1964 dan Industri Pabrik Baja Krakatau Steel telah siap untuk menunjang Industri Galangan Kapal. Ternyata politik lebih penting daripada industri berat seperti pabrik baja dan negara dikuasai oleh orang-orang yang daratan minded seperti telah disukseskan oleh segala tingkah dan perilaku para penguasanya, yang hanya mementingkan daratan saja, sesuai dengan tujuan penjajah belanda dalam upaya mementingkan daratan saja, dan lautan dikuasai oleh VOC dan akhirnya KPM.

4. Saya bukan mengemukakan keluhan karena tidak kebagian rejeki dalam dunia Maritim, akan tetapi saya melihat apa yang dikemukakan tulisan yang disajikan Bung John Oei mengenai Jepang yang doyan ikan itu dari kacamata saya.. Jepang dan Taiwan, Pilipina serta Thailand dan mungkin Malaysia juga, amat menikmati semua KE-TIDAK-BERDAYA-AN RI dalam mengelola, menjaga dan memanfaatkan wilayah lautnya. Mereka berpesta pora dengan negara kita yang lemah karena korupsi, Angkatan Lautnya saja kalah dengan kelengkapan Angkatan Laut Singapura.

5. Sekarang RI harus sesegera mungkin, karena sudah terlalu lama sekali abai masalah Maritim, seharusnya mendorong semua lapisan masyarakatnya mencintai laut, memanfaatkan laut untuk mencari kehidupan yang lebih layak. Pemerintah harus mendanai cara-cara mudah menyiapkan pangan dari laut. MIND SET kita harus berubah total. Menanam padi bukannya jelek, tetap bisa ditingkatkan, tetapi Laut, sekali lagi LAUT, JANGAN SEKALI-KALI DILUPAKAN

6. Saya pernah menemukan bacaan di National Library, di Middle Road, di Singapura yang menyebutkan bahwa pernah ditemukan sebuah kapal dagang terbuat dari kayu jati, dan itu dikatakan sebagai kapal orang Jawa di China. Pedagang Jawa pernah sibuk berlayar ke China, sebelum Cheng Hoo datang ke Nusantara. Ada gambar relief di candi Borobudur yang menggambarkan sebuah kapal layar dan itu sebuah bukti bahwa kita sudah pernah menjadi bangsa pelaut sejak jaman dahulu kala.Bukan orang Bugis saja yang terkenal menjadi pelaut pada jaman dahulu kala, tetapi juga orang Madura dan juga orang JAWA.

7. Harapan saya: kita hentikan sebisa mungkin berbicara politik dan agama dengan kadar seperti sekarang ini. Manusia Indonesia sudah bosan dengan issue-issue seperti ini; kasihan mereka tidak ada yang mampu menolong, kecuali difasilitasi dan diberi penerangan yang cukup oleh pemerintah kita sendiri, mengenai hak-hak kita di Lautan yang telah sepenuhnya milik kita itu. Juga mengenai kemungkinan bisa menciptakan pekerjaan bagi berjuta-juta orang yang membutuhkannya. Bukankah beribadah itu bukan hanya dengan cara berdoa saja?? Mencari nafkah halal adalah wajib, bisa dengan bermartabat membayar pajak, untuk membayar para pegawainya yang disebut sebagai pegawai negeri dan alat-alat Negaranya. Mindset bahwa rakyat hanya budaknya pejabat harus dibalik dan jadikanlah rakyat itu menjadi majikan seperti seharusnya. Mereka berpenghasilan sah dan halal adalah idaman yang layak. Banyak pemasukan pajak berarti akan bisa mencukupi hidupnya khalayak ramai dengan pantas dan berwibawa, termasuk para pegawai negeri dan lat-alat negaranya..

8. Panjang Pantai kita (batas darat dan laut) itu panjangnya 54000 (lima puluh empat ribu) kilometer, sedangkan panjang khatulistiwa (EQUATOR) hanya sekitar 42000 (empat puluh dua ribu) kilometer. Panjang pantai yang terpanjang di dunia adalah Kanada yang mencapai 202.000 kilometer, tetapi sebagian besar dalam waktu satu tahun bukan laut yang terbuka karena tertutup es dan salju. Negara kita semua pantainya bisa dieksploitasi setiap saat, siang malam sepanjang tahun.
Panjang pantai kita sesuai dengan zona ekonomi dikirakan mencapai panjang 80.000 kilometer.

9. Kita bisa mendidik rakyat kita bekerja di industri dasar yang rakyat biasa bisa mengerjakannya, tanpa gangguan bunga uang di bank atau pergerakan modal di pasar bursa. Mereka bisa membuat diri mereka bukan saja nelayan mencari ikan, akan tetapi juga menjadi petani lautan. Membiakkan ganggang laut yang daunnya bisa dikonsumsi orang Jepang dan jangan lupa mutiarapun adalah produk hasil laut.

Mau tunggu apa lagi??

Tidak bisa berenang??

Itu bukan halangan. Belajar berenang kalau memang dirasa perlu!!

Takut mati terbenam?? Sama saja di darat juga bisa mati!!

Buatlah kapal, jadi tidak selalu perlu dan bergantung kepada kemampuan berenang saja. Carilah pemimpin yang memiliki mental kelautan, bukan daratan saja. Sekali lagi daratan juga penting akan tetapi lautan jangan pernah ditinggalkan dan dilupakan.

SEKARANG INI: Pelayaran dan pengangkutan di Laut-Laut antar pulau dikuasai oleh kapal-kapal asing. Ikan-ikan kita dicuri oleh negara-negara tetangga kita, termasuk Jepang. Kalau kapal-kapal pencuri ini tertangkap lalu hilang beritanya, jangan heran. Anda bisa menduga sendiri apa yang terjadi. Padahal nilai pencuriannya mencapai bermiliar-miliar Dollar Amerika Serikat setiap tahunnya. Tiada hari tanpa pencurian. Kalau saya makan sushi di Tokyo, sering saya tanyakan kepada penjualnya: Apakah ikan ini berasal dari negara saya?? Kalau saja dia menjawab iya, maka di dalam pikirannya dia itu merasa ikan telah masuk ke Jepang dengan legal dan didapat dengan memakai pancing yang legal pula.

Bangunlah semangat kelautan di sekeliling anda, sekarang juga.

Salam saya,
Anwari Doel Arnowo

Jakarta, 22 Juli, 2009

From: Arifin Abubakar

To: B.DORPI P.

Sent: Thursday, July 23, 2009 7:57 AM

Subject: Re: [ClubSixty] Re: Fwd: Nelayan Jepang

Para sahabat semua,

Tulisan Cak Doel sangat menyentuh perasaan kebangsaan kita. Reaksi pertama yang timbul pada saya adalah membuka website www.presidensby.info untuk mencari bagaimana caranya meneruskan e-mail Cak Doel ini kepada SBY.

Terus terang saya kecewa karena tidak (belum?) menemukannya.

E-mail Cak Doel haruslah sesegera mungkin dapat kita teruskan ke Istana.

Adalah harapan kita bahwa jeritan seorang Cak Doel yang mewakili jeritan jutaan bangsa Indonesia lainnya sampai hendaknya di PC SBY. Hendaknya dibaca oleh SBY. Hendaknya direnungkan oleh SBY. Hendaknya ditindaklanjuti oleh SBY dengan rumusan program-program terkait yang pada dasarnya terfokus untuk MEMBANGUNKAN KITA SEMUA.

Supaya kita bangun dari tidur dan mimpi panjang bahwa kita adalah bangsa yang besar. Mimpi yang menyatakan bahwa kita adalah bangsa yang kaya. Sedemikian kaya dan suburnya sehingga tongkat pun kalau dilempar keluar rumah konon akan tumbuh menjadi pohon. Berdaun dan berbuah yang bisa dimanfaatkan. Konon itu dikatakan oleh para pemimpin kita dahulu. Dan ternyata "termakan" oleh kita-kita si Melayu bodoh ini sampai sekarang. Jadi apabila ada diantara kita yang tahu alamat e-mail SBY, tolong forward tulisan Cak Doel dibawah ini kepada beliau. Karena kita telah lupa bagaimana cara bangun dari tidur dan mimpi yang panjang. Kita masih perlu tangan orang lain untuk membangunkan kita. Ternyata kemandirian untuk bangun sendiri pun kita tidak punya lagi.

Kita telah tumbuh menjadi bangsa yang beragama karena rindu dengan surga dan takut pada neraka. Bukan beragama karena sadar akan tanggung jawab kita sebagai umat manusia untuk memelihara dan memajukan peradaban manusia yang bermartabat. Kita tumbuh sebagai umat yang beragama secara eksklusif dengan keyakinan yang haqqul yaqin bahwa "kita" akan "DENGAN SENDIRINYA" masuk surga, karena "kita" adalah the "SELECTED" umat. Karena itulah timbul rasa superioritas yang sungguh keliru bahwa "mereka" salah dan hanya "kita" yang benar. Jadilah kita sebuah umat yang berani mengangkangi kebenaran tunggal. Kita lupa bahwa kebenaran hakiki adalah Tuhan itu sendiri, dan bahwa apa yang kita claim sebagai "kebenaran" hanyalah sesuatu yang nisbi. Jadilah kita umat yang menuhankan agama dan lupa menuhankan Tuhan. Untuk itu kita pun siap menghalau "mereka" supaya "kita" tetap "suci". Untuk itu kita pun tidak segan lagi membunuh "mereka". Bersalah atau tidak bersalah. Berdosa atau tidak berdosa. Tak jadi soal. Kalau pun kita terbunuh dalam upaya itu, tak perlu cemas. Tak perlu khawatir. Karena bukankah belasan kalau tidak puluhan bidadari telah menunggu dibalik kematian yang kita cari sendiri ?

Kita telah tumbuh menjadi bangsa yang kehilangan indentitas. Bahkan rela membuang identitas sendiri untuk meminjam identitas bangsa lain, kultur lain. Demi image "kemajuan". Atau demi image "agama" (supaya tampak lebih "suci"). Karena itu kita pun ikut-ikutan memuja para selebrities sebagaimana kultur lain dalam komunitas lain memuja para selebrities mereka. As if that is that is THE thing to do supaya bisa (dianggap) maju. Keluarga yang anggota keluarga besarnya ada yang menjadi selebrity serta-merta terangkat martabatnya menjadi keluarga yang terhormat.

Dan sadar bahwa tidak semua orang mampu meraih "kedudukan terhormat" seperti itu, maka media pun sibuklah menyuap bangsa kita dengan serba sinetron yang berkisar pada lingkungan yang mewah, penampilan yang wah, cerita yang picisan, as if that is THE thing to do supaya bisa (dianggap) "IN".

Jadilah kita bangsa yang serba dangkal, sedangkal sinetron yang kita tatap setiap malam. Hilanglah waktu yang demikian berharganya untuk menjalankan ritual berdiam diri didepan kotak yang bernama TV menonton berjam-jam setiap malam, nyaris sepanjang hari, idola-idola yang jual tampang di sinetron antah-berantah. Waktu yang sungguh demikian berharganya karena sesungguhnya bisa digunakan untuk membaca, bertukar pikiran, berdiskusi, meluaskan wawasan. Berapa persen anak muda kita yang meniti karier untuk menjadi selebrity dan berapa persen dari anak muda kita yang merasa terpanggil untuk membangun wawasan kebangsaan melalui ilmu yang diabdikan untuk kemajuan bangsa ?

Kita telah tumbuh menjadi bangsa yang memuja materi. Kemuliaan seseorang kita ukur dengan berapa besar rumahnya dan berapa banyak mobilnya. Itulah yang telah memicu banyak orang untuk mencari dan menimbun harta pribadi. Supaya cukup untuk tujuh keturunan. Itulah pula yang telah memicu perilaku korupsi ditingkat yang berkuasa. Ditingkat yang tidak berkuasa, itulah pula yang telah memicu perilaku mencuri, merampok dan seribu satu perangai tak terpuji lainnya. Di tataran atas segala dosa itu ditebus dengan berhaji dan berumrah secara rutin, untuk "cuci dosa". Berapa banyak harta yang musnah karena upaya "cuci dosa" itu yang karenanya luput dari para fakir miskin, demi supaya para hartawan bisa lepas dari dosa mereka ?

Sementara itu orang lain, bangsa lain, maju terus meninggalkan kita. Kita yang amat terlalu senang dibuai mimpi. Mereka mengejar ketertinggalan dengan membangun infrastruktur negeri. Bukan dengan bermimpi. Tapi dengan kerja keras yang terfokus. Kerja keras seluruh komponen bangsa. Sedangkan kita sibuk membangun infrastruktur dompet kita sendiri-sendiri. Mereka datang merampok laut kita. Kita diam saja. karena memang tak bisa apa-apa. Mereka rebut pulau-pulau terluar kita satu per satu. Kita diam saja. Karena memang tidak bisa berbuat apa-apa.

Kita sudah hapus kata "bangun" dari kamus bangsa kita.....

Salam,

Abang