Kapal Induk - Mother Ship
(Tulisan Pertama Tahun 2009)
Anwari Doel Arnowo - Jan 3
Teman-teman sekalian,
Kapal Induk tidak dipunyai oleh RI, bahkan dalam konsep saja pun saya belum pernah mendengar dibicarakan orang. Negara kita mempunyai pulau yang banyak dan jumlah pantai yang lebih panjang dari panjang equator. Laut kita bisa memberi pekerjaan dan nafkah halal untuk ratusan tahun yang akan datang kepada seluruh rakyat
Mari pembaca, saya ajak sedikit demi sedikit menengok kekayaan kita, dengan menambah pengetauan. Hal-hal mengenai bahari harus kita wariskan dengan benar kepada rakyat sekarang, serta kepada anak cucu kita untuk masa depan mereka. Jangan terima nasib menjadi bangsa yang melarat ilmu, melarat materi apalagi melarat akhlak dan melarat akal budi, hanya karena sekelompok elite, yang jumlahnya hanya sekitar beberapa juta manusia saja, telah mengangkangi hak rakyat yang dua ratus juta lebih dengan semena-mena. Tirulah yang baik dari semangat bangsa lain, tidak usah malu untuk meniru.
Yang orisinil dari bangsa kita itu kita pelihara dan kita lestarikan, jangan dilupakan saja. Pada jaman sebelum bangsa China datang ke Nusantara, kemudian Cheng Hoo juga datang, di China sudah ditemukan bekas kerangka kapal terbuat dari kayu jati yang jelas-jelas berasal dari Jawa. Waktu itu disebutkan bahwa bangsa asal Jawa itu yang aktip berdagang ke
Silakan menikmati tulisan di bawah ini:
Anwari Doel Arnowo - Jumat, 02 Januari 2009
Kapal Induk
Dari segi bidang perencanaan ilmu bangunan kapal, di antara para Naval Architect sudah dikenal bahwa perencanaan desain untuk kapal yang paling sulit adalah utamanya dari jenis kapal selam dan kapal penangkap ikan. Tetapi itu bukan berarti bahwa desain kapal-kapal jenis lainnya akan mudah. Kapal-kapal Angkatan Laut, dalam menghadapi peperangan juga harus amat cermat dan khusus memerlukan perhatian kedalaman, ke arah penggunaannya yang khusus pula. Jenis-jenis kapal Angkatan Laut itu amat beragam dan tidak bisa mengabaikan semua kemajuan di bidang pelayaran dan ilmu pengetauan mutakhir yang tentu akan penting sekali mengenai persenjataannya, sesuai dengan lautan-lautan yang akan ditempuhnya.
Pelayaran di perairan di dalam wilayah Nusantara yaitu di antara pulau-pulaunya, secara fisik akan mempengaruhi proses dan hasil akhir dari desain karena ombaknya dan gelombangnya tidak terlalu bersifat membahayakan bila dibandingkan dengan pelayaran di lautan lepas seperti di Lautan Hindia, Pasifik maupun Atlantik. Kedalaman Laut Jawa hanya mencapai sekitar kurang dari seratus meter. Belum lagi kita membicarakan kapal-kapal dagang jenis kargo biasa atau khusus seperti pengangkut barang jenis umum: seperti semen, hasil bumi, batubara dan hasil tambang lain dalam bentuk curah, latex, minyak kelapa sawit atau pegangkut khusus buah pisang. Akhirnya kita harus juga tidak bisa melepaskan diri dari keberadaan kapal jenis penumpang.
Kali ini saya ingin membicarakan kapal jenis istimewa: KAPAL INDUK untuk Angkatan Laut. Dalam pergaulan internasional dikenal dengan sebutan: AIRCRAFT CARRIER yang artinya secara harafiah adalah pengangkut pesawat terbang. Jadi dengan mudah anda bisa membayangkan bahwa sebagian besar dek utamanya dipakai untuk menampung semua kegiatan sebuah lapangan terbang yang canggih, dan berbentuk datar. Itulah sebabnya sebuah Aircraft Carrier, oleh sebagian besar para ahli kemiliteran Amerika Serikat disebut juga dengan FLATTOP, yang artinya adalah bagian atas yang datar. Tetapi tugasnya yang utama adalah sebagai Kapal Perang akan tetapi memiliki dek yang luas, menjadikannya sebagai lapangan terbang, sekaligus sebagai apron dan tempat parkir dari pesawat-pesawat tempur, biasanya yang jenis paling mutakhir dan modern perlengkapan senjatanya. Peluru kendali dan peluru-peluru penghancur dari yang besar dan berat daya penghancurannya amat banyak, harus ikut serta diangkutnya. Mengingat dua tugas utamanya ini saja sudah amat berat, maka dapatlah dikatakan bahwa kapal induk adalah sebuah pangkalan udara, bahkan pangkalan militer yang bisa begerak ke manapun yang ditujunya. Anda bisa membayangkan bagaimana rumitnya desain sebuah maha karya seperti ini. Dulu mula digunakan mesin-mesin penggerak yang digerakkan oleh bahan: minyak bakar biasa akan tetapi penggunaan tenaga nuklir pasti tidak dapat tidak, amat diminati seperti yang terjadi saat sekarang ini. Minat ini tentu saja karena pelayarannya memang dibutuhkan akan dapat menjalani jalur-jalur yang jauh sekali jaraknya sehingga dapat menempuh perjalanan keliling dunia. Daya jelajah seperti itu telah dimiliki oleh kapal selam nuklir juga sejak lama yang mampu untuk melakukan pe"layar"an berkeliling dunia beberapa kali. Malah sudah pada puluhan tahun yang lalu Nautilus, sebuah Kapal Selam Angkatan laut Amerika Serikat telah muncul di sekitar Titik Kutub Utara dari bawah lapisan es abadi. Pada tanggal 23 Juli 1958 Nautilus ini berangkat secara rahasia dari Pearl Harbour Hawaii, menjalani operasi Sunshine yang menjalani pelayaran perdana menuju Kutub Utara, bukan perdana bagi Nautilus, akan tetapi perdana bagi sebuah kapal selam. Pada pukul 11:15 tengah hari tanggal 3 Agustus 1958, Perwira Wakil Komandan, Kolonel William R. Anderson mengumumkan kepada ABK (Anak Buah Kapal): "Untuk Dunia, Negara Kita, dan Angkatan Laut - KUTUB UTARA!!!" Dengan 116 ABK di dalamnya, kapal Selam Nuklir pertama Nautilus menjalani dengan sukses misinya yang rahasia dan berkategori TIDAK MUNGKIN, mencapai daerah geografi paling Utara, 90 derajat Lintang Utara. Bagian tulisan yang menyinggung masalah kapal selam nuklir ini adalah karena saya ingin menonjolkan masalah di-implentasi-kanya tenaga jenis baru ini (nuklir) untuk keperluan manusia pada tahun 1958, enam puluh tahunan yang lalu. Dengan cara ini maka telah ditunjukkan kepada dunia bahwa tenaga nuklir telah membuktikan bahwa jenis tenaga nuklir telah mampu membawa sebuah kapal selam, ber"layar" di bawah permukaan air secara terus menerus, bisa mencapai titik misterius yang disebut dengan Kutub Utara. Anda bisa ikut merasakan kalau anda berada pada posisi yang saya sebut dengan titik misterius itu, di manakah anda berada? Semua arah kalau dipandang dari titik tersebut yang ada hanyalah Selatan saja. Barat dan Timur, bahkan Utara sekalipun hilang. Tidak ada. Semua kompas tidak bekerja. Kalau bisa menentukan kembali balik arah, mestinya bisa ke
Sejak kapankah pertama kalinya sebuah kapal induk benar-benar efektif digunakan? Sebenarnya pada awalnya yakni pada akhir abad ke 19 sudah ada yang bisa disebut dengan istilah kapal induk, akan tetapi bukan memuat pesawat udara, tetapi hanya balon udara berawak manusia. Kalau balon udara bisa digolongkan sebagai pesawat udara, maka sebutan kapal induk untuk maksud damai seperti ini bisa dilakukan. Balon untuk maksud damai? Iya itu hanya balon observasi dari udara untuk maksud bukan perang. Begitulah waktu berjalan dan pada waktu Perang Dunia Pertama pecah maka keperluan adanya kapal induk yang bisa mengangkut sebuah pesawat terbang tempur, bertambah dan bertambah. Pada tahun 1903 datanglah waktunya muncul Kapal Induk yang menggunakan pesawat terbang dengan menggunakan sayap tetap. Disusul dengan datangnya era berhasilnya lepas landas kapal terbang seperti di atas, dari dek kapal penjelajah Angkatan Laut
Dalam dunia Kapal Induk, telah lebih dari enam puluh tahun lamanya sampai sekarang ini, sebagian besar dunia telah di"kuasa"i oleh Kapal Induk Amerika, tepatnya Angkatan Laut Amerika Serikat. Memang dalam Perang Dunia Pertama dan Kedua sudah ada Kapal Induk dari kekaisaran Jepang bernama Hosho (ejaan baru Houshou, baca cara Indonesia Hoosyoo). Bagaimanapun kita membicarakan Kapal Induk di seluruh dunia pasti tidak akan bisa meghindari membicarakan Kapal Induk milik Amerika Serikat. Fakta nyatanya saat ini jumlah Kapal Induk yang dipunyai oleh Amerika Serikat, telah mencapai jumlah sebanyak dua kali dari jumlah Kapal Induk yang dimiliki seluruh negara-negara di dunia di luar Amerika Serikat. Generasi berikut dari Kapal Induk yang sudah memasuki babak disiapkannya design yang besar, keampuhan, kecepatan dan kemampuan angkut senjatanya serta kapal terbangnya. Memang persiapan yang teliti macam apapun, akan bisa terpengaruh masalah dengan budgeting, yang bukan masalah mudah untuk dikesampingkan. Bukankah Amerika Serikat sedang mengalami Economic Meltdown yang sedang hebat-hebatnya. Sedang
Boleh juga sedikit kita tinjau kekuatan apa yang akan kita lihat dalam waktu dekat ini.
Pada sekitar tahun 1990an, China telah mendapatkan dua buah Kapal Induk dari Soviet Russia, kelas KIEV dan MINSK, maka semua pembesar militer Amerika Serikat terutama Angkatan Lautnya mengernyitkan dahi, bertanya-tanya. Juga negara-negara lainnya. Apakah
Beberapa hari yang lalu diberitakan bahwa Kolonel Senior Huang Xueping menyatakan dalam konferensi pers bahwa China akan memberangkatkan tiga buah kapal perangnya untuk ikut melakukan patroli di Timur Tengah dalam ikut membantu menjaga keamanan terhadap kemungkinan yang marak dari pembajakan kapal-kapal sipil, seperti yang beberapa bulan telah terjadi terhadap sebuah tanker raksasa Sirius Star. Pernyataan ini dikaitkan dengan kementar yang dilemparkan oleh Jenderal Mayor Qian Lihua bahwa China dengan jelas, agar dunia tidak terkejut bahwa China akan membangun sendiri sebuah Kapal Induknya dalam rangka untuk membangun Angkatan Lautnya menjadi sebuah satuan yang tangguh. Sudah sejak abad ke 15 ketika Laksamana Zheng He (Cheng Hoo) yang telah berlayar sampai sejauh Afrika, China belum pernah mampu atau mau untuk membangun kekuatannya di lautan. Hal ini berlangsung sampai abad ke 20 pada jaman Kuo Min Tang dan masa jayanya komunis, yang enggan menyaingi Amerika. Sebagai salah satu anggota Dewan Keamanan PBB sejak tahun 1980n,
Mampukah
Deng Xiaoping, seorang pemimpin besarnya pada masa yang lalu, selalu bertindak dan bersikap rendah hati, setiap saat dia menyembuyikan kemampuannya dan bersikap sabar; amat pandai bersikap rendah hati dan seolah-olah tidak mempunyai kemampuan memimpin. Juga tidak pernah menyombongkan kepemimpinannya.
Sikap dan kebijakan tadi memang tertuang di dalam strategi "24 Karakter", yang adalah merupakan prinsip -prinsip yang telah menjadi pedoman politik keamanan luar negeri
Mari kita tinjau berapa besar pembiayaan sebuah Kapal Induk. Sebuah Kapal Induk yang modern bertenaga Nuklir (perkiraan tahun 1993) dibangun dengan biaya sekitar USDollar 4 Miliar dan pembiayaan operasi serta pemeliharaannya dalam satu tahun fiskal (yang sekelas dengan Kapal Induk Nimitz) adalah USDollar 275 Juta. Kapal sekelas Nimitz ini sekarang dimiliki oleh Amerika Serikat sebanyak 11 buah, Inggris: 4 buah, Prancis: 2 buah, selanjutnya masing-masing sebanyak satu buah dimiliki Brazil, India, Itali, Korea Selatan, Rusia, Spanyol dan Thailand. Apa kemampuannya Kapal Induk seperti Nimitz ini?? Bisa mengapung dan beroperasi selama 20 (dua puluh) tahun tanpa berhenti untuk mengisi bahan bakar dan memindai bahaya apapun terhadap "diri"nya sampai sejauh 500 kilometer. Bisa menerbangkan pesawat setiap 20 detik dan dapat menampung pesawat tempur jet sebanyak 90 buah di atas dek terbuka dan dek tertutup di dalam badan kapal. Berapa jumlah ABK ya? 6000 (enam ribu Anak Buah Kapal). Rencana mendatang dari kapal-kapal yang akan dibangun untuk Angkatan Laut Amerika Serikat ada sebanyak 12 buah type CVN 21 yang direncanakan akan bisa mulai beroperasi pada tahun 2014,
Di atas, saya tulis mengenai Kapal Induk untuk penggunaan dalam keadaan perang: Aircraft Carrier.
Adakah yang digunakan untuk keperluan damai?
Ada, seperti telah diuraikan di atas, justru sebagai awal dari keberadaan Kapal Induk di masa sebelum Perang Dunia Pertama. Waktu itu yang diangkutnya adalah Balon Udara berawak manusia, apabila yang semacam ini dapat digolongkan ke dalam golongan pesawat udara. Gunanya untuk keperluan pemetaan dan geologi dan hydrography serta ilmu kelautan lain.
Kapal Induk yang ingin saya tonjolkan di sini adalah yang untuk maksud damai dan menghasilkan pangan bagi manusia, yaitu: KAPAL INDUK PENGANGKUT HASIL LAUT. Di atas kapal ini ada fasilitas-fasilitas yang melakukan cara-cara memproses ikan dan hasil laut tertentu dan kemudian dilanjutkan mengirim hasil prosesnya ke pabrik pengalengan, yang juga berada di atas kapal itu. Untuk Kapal Induk seperti ini dalam bahasa Inggrisnya akan lebih sesuai karena digunakan istilah Mother Ship. Kapal Induk (Mother Ship) ini mempunyai anak-anak kapal kecil yang diangkutnya sampai ke tempat-tempat pusat-pusat di mana telah dikenal sebagai tempat berkumpulnya ikan-ikan jenis tertentu dalam jumlah banyak. Bukan sulit pada jaman sekarang mencari yang seperti ini, karena dengan bantuan alat-alat sonar (sound navigation and ranging) yang menggunakan pantulan getaran suara yang dikirim dan diterima kembali di tempat asal. Dengan diketauinya pusat-pusat seperti ini, maka menuju ke sanalah kapal induk ini dan menurunkan kapal-kapal anaknya untuk mengumpulkan tangkapan yang dikehendaki. Hasil kapal-kapal anak ini akan diserahkan ke kapal Induk dan diproses serta dikalengkan. Produk berupa ikan kaleng dapat saja dibawa sendiri oleh Kapal Induk ataupun dapat diangkut oleh kapal angkut biasa ke pelabuhan yang dituju.
Kapal induk seperti ini biasanya berukuran besar dan laik laut untuk dipakai ke lautan lepas menjelajah samudra. Diketaui saat ini ada sekitar 39400 kapal yang berukuran lebih besar dari 100 Ton dalam lingkup pekerjaan Kapal Pabrik seperti ini, di seluruh dunia.
Kapal Induk yang biasa disebut dengan Mother Ship ini bisa saja adalah sebuah Kapal Terbang yang besar dan membawa serta sebuah pesawat terbang kecil yang tidak akan mungkin dapat menempuh jarak tersebut sendiri, seperti halnya kalau dia ikut bersama Kapal Induknya (Mother Ship). Atau bisa saja dia adalah hanya kapal angkut kapal-kapal laut atau kapal terbang yang lebih kecil, mengantar ke tempat yang ditujunya dan atau menjemputnya dari tempat-tempat seperti ini kembali ketempat semula. Ini terjadi terhadap Kapal Induk Udara B-52 yang membawa pesawat kecil X-15 yang tidak akan dapat mencapai ketinggian ini, kalau berangkat sendiri. Kapal selam kecil seperti
Sekarang kita tau bahwa Kapal Induk bisa berupa Aircraft Carrier, bisa berupa Mother Ship yang adalah Processing and Factory (Canning) Ship yang mengolah hasil laut, dan juga pengangkut Kapal Selam kecil yang bisa menyelidiki kehidupan dan alam di bawah permukaan air laut sampai kedalaman beribu-ribu kilometer. Bahkan bisa juga sebuah Kapal Induk (Mother Ship) jenis B-52 yang mampu mengangkut sebuah pesawat kecil dan ramping badannya dan dengan mudah bisa lepas dari B-52, menembus lapisan udara terluar dan kembali ke bumi sendiri, dengan kekuatan sendiri.
Itulah sebabnya saya tulis mengenai hal ini agar bangsa
Mari kita jauhkan sikap kita sebagai JAGO KANDANG yang tidak berani melakukan eksplorasi dan penjajagan lain agar bisa memberi kehidupan yang lebih baik bagi sesama manusia, terutama
Anwari Doel Arnowo
Jumat, 02 Januari 2009 - 22:05:03
3 Januari 2009
Anwari Doel Arnowo
Singapura
M e r d e k a, Bung
No comments:
Post a Comment