ANGIN SEGAR
Memacu Industri Strategis
Kesibukan kerja PT PAL sangat tinggi pada saat saya berkunjung ke perusahaan tersebut. Galangan kapal yang besar sedang mengerjakan dua kapal: satu kapal kargo berukuran 50.000 ton pesanan perusahaan pelayaran Jerman dan satu lagi kapal tanker bahan kimia pesanan perusahaan Italia yang berbobot mati 24.500 ton. Sebelumnya, beberapa kapal dengan ukuran besar itu sudah diselesaikan dan diserahkan kepada pemesan dari Jerman, Turki, dan Italia.
Di dok lainnya sedang dibuat landing platform dock yang kedua pesanan dari Kementerian Pertahanan. Pesanan itu sebetulnya terdiri atas empat kapal dan dilakukan oleh Dae Sun Shipyard, Korea, yang dibiayai fasilitas kredit ekspor dari lembaga keuangan di Korea. Dae Sun kemudian meminta PT PAL mengerjakan dua kapal, satu sudah diserahterimakan kepada Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan, pada awal Desember 2009.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga memesan tiga kapal patroli cepat dengan bahan aluminium yang pada saat kunjungan itu satu sudah diselesaikan dan dua sedang mengejar tenggat yang ditetapkan. Sementara itu, beberapa kapal perang juga sedang diperbaiki di galangan kapal mereka.
Bangkitnya PT PAL kebetulan sekali juga bersamaan dengan bangkitnya kembali PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang mengalami metamorfosis dari PT IPTN sebelumnya. Pemerintah Korea baru saja memesan pesawat CN 235-110 MPA, kapal patroli laut yang memang dibuat perusahaan tersebut. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Indonesia juga baru saja memesan tiga pesawat CN 2354-220 MPA untuk menggantikan pesawat Nomad. Pesanan ini menambah panjang daftar pesanan. Sebelumnya, PT DI menerima pesanan helikopter Bell 412 SP dari TNI dan Basarnas.
Dengan kebangkitan kembali industri dirgantara Indonesia tersebut, rencana yang dikembangkan sepuluh tahun yang lalu bukan tidak mungkin akan diangkat kembali. PT DI sudah membangun beberapa pesawat N-250 buatan Indonesia. Malah, penerbangan percobaan sudah pula dilakukan oleh perusahaan tersebut. Terakhir bahkan sudah pula dikembangkan pesawat jet N-2130 yang dulu menuai banyak perdebatan. Sayang, berbagai rencana itu terkubur oleh krisis moneter tahun 1998.
Yang menarik, PT Pindad juga unjuk gigi dengan kemampuannya mengembangkan kendaraan panser (armored personnel carrier) dengan kualitas yang tidak kalah dari Perancis.
Strategi memacu industri strategis
Kemampuan teknologi berbagai industri strategis itu sungguh tidak perlu dipertanyakan lagi. PT PAL bahkan mungkin merupakan galangan kapal terbesar di Asia Tenggara saat ini.
Dalam pemenuhan alat utama sistem persenjataan, PT PAL juga memiliki kemampuan membangun kapal kawal rudal dan korvet (kelas sigma). Dengan teknologi yang telah mereka kuasai dalam membangun kapal 50.000 ton (Star 50), mereka juga memiliki kemampuan membangun kapal induk helikopter yang mampu mengangkut 16 helikopter.
Sementara itu, kemampuan yang dimiliki PT DI sebetulnya juga langka untuk ukuran ASEAN. Ini menempatkan PT DI memiliki kemampuan seperti Embraer, perusahaan pesawat terbang dari Brasil yang produknya sangat banyak dipakai oleh perusahaan penerbangan Amerika Serikat. Sementara kemampuan baru yang dimiliki PT Pindad sangat mungkin dikembangkan lebih lanjut untuk pembuatan tank misalnya sehingga kebutuhan akan alutsista TNI bisa sebagian dipenuhi dari dalam negeri.
Apa yang bisa kita lakukan untuk lebih mendorong industri strategis tersebut? Yang terpenting adalah berbagai perusahaan itu harus mampu hidup secara komersial sebagaimana perusahaan lainnya. Sebagaimana PT PAL yang mampu mengerjakan dua kapal LPD dengan harga yang sangat kompetitif, serta masuknya pesanan kapal lainnya dari Jerman, Italia, Turki, dan negara lain karena harga yang bersaing, persyaratan ini harus dikembangkan dan dimiliki industri strategis lainnya.
Pemerintah perlu memiliki keberpihakan untuk mendorong industri strategis tersebut. Secara finansial, keuangan pemerintah kita mampu mendorong industri tersebut. PT PAL, misalnya, dengan suntikan modal beberapa ratus miliar rupiah saja akan membuat perusahaan tersebut semakin bankable. Demikian juga dengan PT DI. Dengan kemampuan teknologi yang mereka miliki, restrukturisasi perusahaan tersebut akan memungkinkan PT DI menjadi lebih mampu secara komersial sehingga layak untuk didorong lebih lanjut.
Sementara itu, kepercayaan yang ditunjukkan Jerman, Italia, Korea Selatan, Turki, dan negara lain atas berbagai produk perusahaan itu mestinya membuat kita semakin yakin untuk memanfaatkan industri strategis kita untuk berbagai keperluan.
Pemerintah juga bisa mengembangkan program pembiayaan perbankan yang dijamin sepenuhnya oleh pemerintah sebagaimana fasilitas kredit ekspor dengan negara lain selama ini.
Berbagai hal tersebut akan memungkinkan industri strategis kita berkembang secara sehat dan mampu bersaing dalam percaturan global.
Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo Pemerhati Ekonomi
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Teman-teman sekalian,
Menilik lamanya kita berstatus merdeka, seharusnya kita sudah mempunyai lebih dari sepuluh buah Shipyard seperti PT PAL plus yang lebih besar dan lebih besar. Yang dilupakan orang adalah pokok pangkal bagaimana industri bangunan kapal bisa berjalan. Yang paling utama kita harus memiliki pabrik baja sebanyak-banyaknya, karena semestinya tambang bijih besi yang ada bisa menunjang industri baja melalui pabrik ini. Negara Jepang tidak memiliki tambang mineral ini, tetapi industri bajanya luar biasa. Sampai mendekati tahun 1960an Jepang memproduksi separuh lebih dari semua kapal yang dibangun di SELURUH DUNIA, selama sekitar lebih dari lima tahunan lamanya. Periode kemudian digantikan oleh Korea. Mengapa saya sebut Jepang? Karena mereka merdeka kira-kira sudah seperti NKRI, sekitar 60 tahunan.
Sebuah shipyard akan membutuhkan dukungan perusahaan-perusahaan lain sebanyak, bisa mencapai, dua ratus Perusahaan afiliasi. Contoh: Perusahaan khusus membuat pintu baja di kapal dan juga pintu-pintu dari bahan kayu, juga-juga perusahaan sub-contractors lain. Berapa tenaga kerjanya?
Hal-hal seperti inilah yang telah mendorong saya belajar Naval Architecture design, lebih dari 50 tahun yang lalu.
Saya berpendapat tidak ada kata terlambat bagi siapapun untuk mau memulainya. Yang dibutuhkan adalah goodwill, kesiapan mindset dan mau bekerja keras untuk dunia maritim.
Janganlah kita dibawa ribut melulu oleh kelakuan para pejabat yang sudah mewah gajinya, mewah pula fasilitasnya. Mereka ini harus peduli bahwa membuat bahan makanan mie saja kita semua membutuhkan baja, juga membuat koelkast dan televisi apalagi mobil nasional, jalan toll, kapal laut, kapal terbang, roket untuk luar angkasa. Undang-undang melalui PBB dan konvensi-konvensi sudah mengakui bahwa NKRI ini adalah penguasa satu-satunya di dalam laut, dasar laut sampai kedalaman yang jauh serta udara di atasnya sampai ke angkasa.
Lalu bagaimana melaksanakan pengamanan hak-hak tadi??? Liwat Pansus dpr? Liwat satgas-satgas, liwat komisi-komisi?? Silakan cerna sendiri harus bagaimana.
Singsingkan lengan baju dan keluarkan keringat.
Tidak cukup wacana saja, tidak cukup bicara saja, tidak cukup hanya bekerja dalam ruangan yang sejuk saja.
Hoolopis kuntul baris,
rawe-rawe rantas
malang-malang putung.... !!!!
Anwari Doel Arnowo - 11 - 1 - 2010
No comments:
Post a Comment