Anwari Doel Arnowo
SEKEDAR TAMBAHAN BERHARGA:
1. Waktu RI diproklamasikan pada tahun 1945, luas laut kita adalah L Kilometer Persegi. Hari ini kita sudah sah memiliki ukuran laut yang luasnya sudah 60 (enam puluh) kali L Kilometer Persegi. Itu semua berkat Deklarasi Juanda pada tahun1957an dan diteruskan sampai Hukum Internasional mau mengakui bahwa Laut kita diakui oleh Dunia International dan PBB. Bukan saja Laut di dalam Zona Ekonomi kita itu milik kita, sampai dasar laut kita dan isi bumi yang berada di bawahnya adalah sah milik RI.
2. Belum cukup sampai di situ saja. Seluruh udara dan angkasa di atas kepulauan kita adalah juga merupakan hak kita, sehingga pihak asing manapun harus mendapat ijin dari RI kalau melintasinya.
3. Ironisnya: Kita tidak memiliki peralatan yang cukup untuk menjaga milik kita itu: Lautan dan Udaranya. Saya adalah seorang Naval Achitect - Arsitek Kapal, yang belajar di Jepang. Seumur hidup saya telah terpaksa tidak bisa berprestasi di bidang pembangunan kapal. Sebuah Industri Kapal bermodal luar biasa besar dan returnnya amat lama (slow yielding) dan biasanya dipelopori oleh pemerintahnya dan memerlukan proteksi. Perhitungan saya sekolah saya selesai pada tahun 1964 dan Industri Pabrik Baja Krakatau Steel telah siap untuk menunjang Industri Galangan Kapal. Ternyata politik lebih penting daripada industri berat seperti pabrik baja dan negara dikuasai oleh orang-orang yang daratan minded seperti telah disukseskan oleh segala tingkah dan perilaku para penguasanya, yang hanya mementingkan daratan saja, sesuai dengan tujuan penjajah belanda dalam upaya mementingkan daratan saja, dan lautan dikuasai oleh VOC dan akhirnya KPM.
4. Saya bukan mengemukakan keluhan karena tidak kebagian rejeki dalam dunia Maritim, akan tetapi saya melihat apa yang dikemukakan tulisan yang disajikan Bung John Oei mengenai Jepang yang doyan ikan itu dari kacamata saya.. Jepang dan Taiwan, Pilipina serta Thailand dan mungkin Malaysia juga, amat menikmati semua KE-TIDAK-BERDAYA-AN RI dalam mengelola, menjaga dan memanfaatkan wilayah lautnya. Mereka berpesta pora dengan negara kita yang lemah karena korupsi, Angkatan Lautnya saja kalah dengan kelengkapan Angkatan Laut Singapura.
5. Sekarang RI harus sesegera mungkin, karena sudah terlalu lama sekali abai masalah Maritim, seharusnya mendorong semua lapisan masyarakatnya mencintai laut, memanfaatkan laut untuk mencari kehidupan yang lebih layak. Pemerintah harus mendanai cara-cara mudah menyiapkan pangan dari laut. MIND SET kita harus berubah total. Menanam padi bukannya jelek, tetap bisa ditingkatkan, tetapi Laut, sekali lagi LAUT, JANGAN SEKALI-KALI DILUPAKAN
6. Saya pernah menemukan bacaan di National Library, di Middle Road, di Singapura yang menyebutkan bahwa pernah ditemukan sebuah kapal dagang terbuat dari kayu jati, dan itu dikatakan sebagai kapal orang Jawa di China. Pedagang Jawa pernah sibuk berlayar ke
7. Harapan saya: kita hentikan sebisa mungkin berbicara politik dan agama dengan kadar seperti sekarang ini. Manusia
8. Panjang Pantai kita (batas darat dan laut) itu panjangnya 54000 (
Panjang pantai kita sesuai dengan zona ekonomi dikirakan mencapai panjang 80.000 kilometer.
9. Kita bisa mendidik rakyat kita bekerja di industri dasar yang rakyat biasa bisa mengerjakannya, tanpa gangguan bunga uang di bank atau pergerakan modal di pasar bursa. Mereka bisa membuat diri mereka bukan saja nelayan mencari ikan, akan tetapi juga menjadi petani lautan. Membiakkan ganggang laut yang daunnya bisa dikonsumsi orang Jepang dan jangan lupa mutiarapun adalah produk hasil laut.
Mau tunggu apa lagi??
Tidak bisa berenang??
Itu bukan halangan. Belajar berenang kalau memang dirasa perlu!!
Takut mati terbenam?? Sama saja di darat juga bisa mati!!
Buatlah kapal, jadi tidak selalu perlu dan bergantung kepada kemampuan berenang saja. Carilah pemimpin yang memiliki mental kelautan, bukan daratan saja. Sekali lagi daratan juga penting akan tetapi lautan jangan pernah ditinggalkan dan dilupakan.
SEKARANG INI: Pelayaran dan pengangkutan di Laut-Laut antar pulau dikuasai oleh kapal-kapal asing. Ikan-ikan kita dicuri oleh negara-negara tetangga kita, termasuk Jepang. Kalau kapal-kapal pencuri ini tertangkap lalu hilang beritanya, jangan heran. Anda bisa menduga sendiri apa yang terjadi. Padahal nilai pencuriannya mencapai bermiliar-miliar Dollar Amerika Serikat setiap tahunnya. Tiada hari tanpa pencurian. Kalau saya makan sushi di
Bangunlah semangat kelautan di sekeliling anda, sekarang juga.
Salam saya,
Anwari Doel Arnowo
From: Arifin Abubakar
To: B.DORPI P.
Sent:
Subject: Re: [ClubSixty] Re: Fwd: Nelayan Jepang
Tulisan Cak Doel sangat menyentuh perasaan kebangsaan kita. Reaksi pertama yang timbul pada saya adalah membuka website www.presidensby.info untuk mencari bagaimana caranya meneruskan e-mail Cak Doel ini kepada SBY.
Terus terang saya kecewa karena tidak (belum?) menemukannya.
E-mail Cak Doel haruslah sesegera mungkin dapat kita teruskan ke Istana.
Adalah harapan kita bahwa jeritan seorang Cak Doel yang mewakili jeritan jutaan bangsa
Supaya kita bangun dari tidur dan mimpi panjang bahwa kita adalah bangsa yang besar. Mimpi yang menyatakan bahwa kita adalah bangsa yang kaya. Sedemikian kaya dan suburnya sehingga tongkat pun kalau dilempar keluar rumah konon akan tumbuh menjadi pohon. Berdaun dan berbuah yang bisa dimanfaatkan. Konon itu dikatakan oleh para pemimpin kita dahulu. Dan ternyata "termakan" oleh kita-kita si Melayu bodoh ini sampai sekarang. Jadi apabila ada diantara kita yang tahu alamat e-mail SBY, tolong forward tulisan Cak Doel dibawah ini kepada beliau. Karena kita telah lupa bagaimana cara bangun dari tidur dan mimpi yang panjang. Kita masih perlu tangan orang lain untuk membangunkan kita. Ternyata kemandirian untuk bangun sendiri pun kita tidak punya lagi.
Kita telah tumbuh menjadi bangsa yang beragama karena rindu dengan surga dan takut pada neraka. Bukan beragama karena sadar akan tanggung jawab kita sebagai umat manusia untuk memelihara dan memajukan peradaban manusia yang bermartabat. Kita tumbuh sebagai umat yang beragama secara eksklusif dengan keyakinan yang haqqul yaqin bahwa "kita" akan "DENGAN SENDIRINYA" masuk surga, karena "kita" adalah the "SELECTED" umat. Karena itulah timbul rasa superioritas yang sungguh keliru bahwa "mereka" salah dan hanya "kita" yang benar. Jadilah kita sebuah umat yang berani mengangkangi kebenaran tunggal. Kita lupa bahwa kebenaran hakiki adalah Tuhan itu sendiri, dan bahwa apa yang kita claim sebagai "kebenaran" hanyalah sesuatu yang nisbi. Jadilah kita umat yang menuhankan agama dan lupa menuhankan Tuhan. Untuk itu kita pun siap menghalau "mereka" supaya "kita" tetap "suci". Untuk itu kita pun tidak segan lagi membunuh "mereka". Bersalah atau tidak bersalah. Berdosa atau tidak berdosa. Tak jadi soal. Kalau pun kita terbunuh dalam upaya itu, tak perlu cemas. Tak perlu khawatir. Karena bukankah belasan kalau tidak puluhan bidadari telah menunggu dibalik kematian yang kita cari sendiri ?
Kita telah tumbuh menjadi bangsa yang kehilangan indentitas. Bahkan rela membuang identitas sendiri untuk meminjam identitas bangsa lain, kultur lain. Demi image "kemajuan". Atau demi image "agama" (supaya tampak lebih "suci"). Karena itu kita pun ikut-ikutan memuja para selebrities sebagaimana kultur lain dalam komunitas lain memuja para selebrities mereka. As if that is that is THE thing to do supaya bisa (dianggap) maju. Keluarga yang anggota keluarga besarnya ada yang menjadi selebrity serta-merta terangkat martabatnya menjadi keluarga yang terhormat.
Dan sadar bahwa tidak semua orang mampu meraih "kedudukan terhormat" seperti itu, maka media pun sibuklah menyuap bangsa kita dengan serba sinetron yang berkisar pada lingkungan yang mewah, penampilan yang wah, cerita yang picisan, as if that is THE thing to do supaya bisa (dianggap) "IN".
Jadilah kita bangsa yang serba dangkal, sedangkal sinetron yang kita tatap setiap malam. Hilanglah waktu yang demikian berharganya untuk menjalankan ritual berdiam diri didepan kotak yang bernama TV menonton berjam-jam setiap malam, nyaris sepanjang hari, idola-idola yang jual tampang di sinetron antah-berantah. Waktu yang sungguh demikian berharganya karena sesungguhnya bisa digunakan untuk membaca, bertukar pikiran, berdiskusi, meluaskan wawasan. Berapa persen anak muda kita yang meniti karier untuk menjadi selebrity dan berapa persen dari anak muda kita yang merasa terpanggil untuk membangun wawasan kebangsaan melalui ilmu yang diabdikan untuk kemajuan bangsa ?
Kita telah tumbuh menjadi bangsa yang memuja materi. Kemuliaan seseorang kita ukur dengan berapa besar rumahnya dan berapa banyak mobilnya. Itulah yang telah memicu banyak orang untuk mencari dan menimbun harta pribadi. Supaya cukup untuk tujuh keturunan. Itulah pula yang telah memicu perilaku korupsi ditingkat yang berkuasa. Ditingkat yang tidak berkuasa, itulah pula yang telah memicu perilaku mencuri, merampok dan seribu satu perangai tak terpuji lainnya. Di tataran atas segala dosa itu ditebus dengan berhaji dan berumrah secara rutin, untuk "cuci dosa". Berapa banyak harta yang musnah karena upaya "cuci dosa" itu yang karenanya luput dari para fakir miskin, demi supaya para hartawan bisa lepas dari dosa mereka ?
Sementara itu orang lain, bangsa lain, maju terus meninggalkan kita. Kita yang amat terlalu senang dibuai mimpi. Mereka mengejar ketertinggalan dengan membangun infrastruktur negeri. Bukan dengan bermimpi. Tapi dengan kerja keras yang terfokus. Kerja keras seluruh komponen bangsa. Sedangkan kita sibuk membangun infrastruktur dompet kita sendiri-sendiri. Mereka datang merampok laut kita. Kita diam saja. karena memang tak bisa apa-apa. Mereka rebut pulau-pulau terluar kita satu per satu. Kita diam saja. Karena memang tidak bisa berbuat apa-apa.
Kita sudah hapus kata "bangun" dari kamus bangsa kita.....
Salam,
Abang
No comments:
Post a Comment